Separation Anxiety

Monday, June 27, 2005

Bwaaahhhhahhaaa.... please don't leeeavvee meee alllooonneeeeeeeee!!!!!!!!! Bwhhaa.. where r u guys??? Bwaahaha!!

For the first six months of her life, Arwen enjoyed the attention of new people, smiled at any friendly face and played around by herself.

Then she hit the 7-month mark, and everything changed. "If I made a move toward the door, she would start screaming. I was just racked with guilt every time I had to go somewhere without her."

Kebayang kan, kalo kita harus selalu ada di sampingnya terus, gak mau ditinggal sama sekali, even ke dapur atau kamar mandi. Whooaaaa!! Mamin jadi ikutan nangis :), gak berkutik di samping Arwen. Gak bisa ngapa-ngapain.

Arwen gak mau lagi bobok sendiri, apalagi ditinggal main sendiri, sementara Mamin melakukan aktifitas lain. Baru aja melangkah keluar pintu, Arwen udah teriak, kayak takut ditinggalin.

Awalnya Mamin bingung, kok Arwen jadi dikit-dikit nangis, tapi kalo ditinggalin aja. Ternyata setelah browsing sana-sini, Arwen mulai masuk masa-masa "Separation Anxiety."

Untungnya pernyataan di bawah ini (diambil dari www.parents.com), bisa membuat kami lega :

But as it turns out, separation anxiety is a normal part of his development. "During the first six months of her life, your baby has no idea that she is independent from her parents -- or any other caregiver," says Jude Cassidy, Ph.D., a professor of psychology at the University of Maryland, in College Park. That's why most young babies will happily move from one lap to another. It simply doesn't matter who provides the food or the love, as long as it's there.

At about 6 months, however, your baby begins to distinguish one person from another and starts forming strong emotional attachments to his parents and caregivers. He's also coming to understand the concept of object permanence: When his mother leaves the room, he remembers that she left and wonders when she'll return. "When you add these two developmental advances together, you've got the perfect equation for separation anxiety," Dr. Cassidy says.

In actuality, then, his sorrow at your departure is a positive sign. "It's an indication that a child is attached to his parents," says Ross A. Thompson, Ph.D., a professor of psychology at the University of Nebraska, in Lincoln. Ultimately, this strong sense of security will help your baby learn to be an independent toddler. In the meantime, here are a few strategies to help calm his anxiety.

1. Practice, Practice, Practice!
To make separation less of a shock, play peekaboo to help reinforce the point that you'll return even if she can't see you. You can also send stuffed animals or dolls on little "journeys" and then reunite them with your child.

2. Familiarity Breeds Comfort
If you take your baby to day care or on a visit to Grandma's, spend time acquainting him with his surroundings. When Diane Kreyer took her son to day care, she allowed a few extra minutes each day to play with Brett and his favorite toy. "Having this same routine made it more familiar to him and easier for me to leave," Kreyer says.

If it seems to help your baby, bring along a security object or two -- a blanket, a stuffed animal, a favorite toy. These items may provide her with a strong sense of safety and connection to home.

3. Getting to Know You
Before you leave your baby alone with a caregiver, make sure he is comfortable with that person. If, for example, a new baby-sitter is coming to your home for the evening, ask her to come over about an hour early and spend some time with your child before you leave the two of them alone together. That way, your child won't feel as if she's being left with a stranger. You may also want to let the sitter know about your child's favorite toys, games, and foods.

4. Rituals of Reassurance
Tempting as it may be to sneak away to avoid a teary scene, resist the urge. It will only undermine your child's sense of security. Instead, create a good-bye ritual that will soothe both of you. When her daughter, Caitlin, was 8 months old, Claire Hewitt developed a special good-bye wave to make her feel more secure. "I'd leave the house, and her baby-sitter would bring her to the window so we could wave at each other. It really helped her come to terms with my departure," says this mom from Manchester, New Hampshire.

5. For Crying Out Loud
It's normal -- and healthy -- for your baby to cry when you leave, so don't discourage it. "The ability to be aware of and express one's feelings is an important emotional foundation," Dr. Cassidy says. That does not mean, however, that you should delay departure. Hanging around trying to comfort him may only prolong the agony. Instead, give your child a hug and a kiss, tell him you love him, and hand him over to the caregiver. Soon enough, he'll stop crying -- and you'll stop feeling guilty.

6. Many Happy Returns
"As parents, we often overlook an important part of the separation process -- the reunion," Dr. Thompson says. "Happy reunion rituals are essential to reinforcing the parent-child bond and keeping separation anxiety in check." Dr. Thompson suggests following your child's cues. If she reaches up to you when you arrive, give her a big hug and just hang out with her a little while before heading back inside. If she waves a toy, get down and play with her for a few minutes. "These kinds of happy returns remind your child that no matter how sad it is when Mommy and Daddy leave," Dr. Thompson says, "it's always wonderful when they come back."



(original post)

Read more...

iBaby Brain

Saturday, April 30, 2005

Artefacts from the Future :

Image hosted by Photobucket.com

iBabyBrain ini adalah alat untuk men-setup perkembangan otak bayi yang berusia 0 - 3 tahun. Anda tinggal mengatur seluruh rencana perkembangan dan pertumbuhan bayi di Macintosh Anda. Setelah selesai direncanakan, Anda harus membuat simulasinya terlebih dahulu di komputer, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat dideteksi secara dini. Komputer otomatis akan memberi tahu kepada Anda bahwa data aman dan siap untuk didownload ke otak bayi Anda melalui modul iBabyBrain melalui kabel Ultra FireWire 100G.
Image hosted by Photobucket.com
(click for larger image)
Selain mengatur perkembangan otak, iBabyBrain juga bisa mem-backup seluruh memory otak, sehingga jika terjadi kerusakan pada otak bisa di-restore lagi seperti sedia kala tergantung pada file data yang disimpan. Software ini juga dilengkapi dengan feature schedule yang otomatis akan mem-backup memory otak dalam interval waktu yang diinginkan.
Feature yang tidak kalah menariknya adalah BrainWash, yang menghapus seluruh memory otak bayi Anda (hiiiiyy) jika memang ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dengan BrainWash, perkembangan otaknya bisa dimodifikasi lagi sesuai dengan umur bayi tanpa harus memulai lagi dari awal.
Spec & requirement :
- Macintosh G20 minimum 1,5 petahertz dengan port Ultra FireWire 100G
- MacOS 20th or better
*Karena peralatan ini berhubungan langsung dengan keselamatan jiwa maka Macintosh dipilih sebagai platform utama karena alasan stabilitas hardware & software yang sudah terjaga selama bertahun-tahun.
*Perhatian : Produk ini belum melalui uji kelayakan "manusiawi" dan belum dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya.
catatan : pada saat snapshot ini dibuat, interface Mac-nya sedang menggunakan theme Aqua Classic pada software ShapeShifter versi 35/2015

Original Post

Read more...

Arwen: The Growing Arwen 3

Monday, February 7, 2005

BULAN KETIGA


Tak terasa dua bulan telah berlalu. Memasuki bulan ketiga semua keletihan mulai terbayar :-). 1001 ekspresi wajah dan tingkah laku Arwen membuat hari-hari kami makin berwarna, tak jarang mengundang tawa. Responsnya semakin baik dari hari ke hari. Kami pun semakin giat melakukan stimulasi-stimulasi untuk merangsang perkembangan dan pertumbuhannya.

Setiap ada kesempatan kami berusaha mengajaknya berkomunikasi dan dari mulut kecilnya akan terdengar suara-suara "oooo, aahhh, eehhhh" dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang tak lepas dari bibir mungilnya. Tak jarang Arwen begitu excited saat kami bacakan buku cerita dan bernyanyi-nyanyi. Mimik mukanya seakan berusaha menirukan mimik muka kami. Jam tidurnya mulai berkurang, karena Arwen mulai senang bermain. Jadwal minumnya juga sudah mulai 3 sampai 4 jam sekali. Di malam hari, ia akan tertidur panjang dan akan bangun keesokan paginya.
Secara fisik, ia juga menunjukkan perkembangan yang berarti. Di bulan ketiga ini berat badannya mencapai 4,9 kg dengan tinggi badan 53 cm dan sudah mendapatkan suntikan hepatitis yang ke-2. Perkembangan motoriknya juga terus bertambah baik.
Ia mulai berusaha menggenggam benda yang ada di depannya. Jarak pandang matanya juga semakin jauh, karena ia sudah bisa mengikuti gerak benda dan mencari sumber suara dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
Saat ini, Arwen bukan bayi kecil yang tidak kami mengerti lagi.

Dan tampaknya ia pun sudah mulai dapat beradaptasi dengan kehidupan barunya di dunia. Satu-satunya cara untuk berkomunikasi bukan lagi dengan menangis, tapi melalui ekspresi wajah, suara-suara dan gesture. Kebiasaan baru yang dimilikinya adalah berusaha memasukkan apapun yang ada di dekatnya ke dalam mulut, terutama tangan dan jari-jari tangannya.
Tidur pun tidak harus selalu ditemani lagi. Karena Arwen sudah mulai dapat tidur sendiri, tanpa harus selalu digendong-gendong. Gumohnya juga sudah sangat jauh berkurang, sehingga kami tidak merasa was-was jika harus meninggalkannya tidur sendiri.

Hari-hari tak sempat makan, mandi dan tidur, serta badan pegal-pegal, telah berlalu, tergantikan dengan saat-saat penuh tawa dan kejutan-kejutan baru :-) Dan kami pun semakin menikmati tugas sebagai orangtua baru.

RECOMMENDED WEBSITES
1. www.kidsgrowth.com
2. www.balita-anda.com
3. www.keepkidshealthy.com
4. www.open2.net/childofourtime
5. www.thefamilycorner.com

Original Post

Read more...

Kenapa Arwen Tidak Memakai Anting-Anting?

Monday, January 31, 2005




"Buruan lo pakein anting sekarang! Mumpung masih baby, blm terlalu sakit."
"Kok Arwen gak dipakein anting-anting?"
"Oooo..perempuan yah. Kirain cowok, abis gak ada anting-antingnya."


Ratusan kali pertanyaan-pertanyaan tersebut mampir di kuping kami. Biasanya saya akan menjawab, "Nanti aja kalo udah gede, biar dia putusin sendiri mau pake anting atau nggak."
Sebagian orang akan mengernyitkan dahi bila saya menjawab demikian, sebagian lagi menanggapinya sambil lalu.

Ada alasan tersendiri mengapa kami memutuskan untuk tidak memakaikan anting-anting pada anak kami. Pelajaran pertama baginya adalah, kami sebagai orangtua tidak mau memaksakan kehendak kami. Biarkan dia memutuskan sendiri jika harus menggunakan anting-anting nantinya. Kami menghormati haknya untuk memilih. Seperti juga orang dewasa, bayi mungil kami juga punya hak pribadi untuk "mendandani" dirinya dan untuk merasakan sakit atau tidak. Siapa bilang bayi belum bisa merasakan sakit saat ditindik?

Semua ini bukan semata-mata, kami tak tega melihatnya kesakitan saat ditindik. Bukan! Arwen adalah manusia yang terlahir dengan hak-haknya, walaupun ia belum bisa mengungkapkan perasaan, kami menghormatinya. Kami tak ingin memaksakan kehendak hanya demi ia terlihat seperti anak perempuan sebagaimana layaknya atau hanya demi alasan penampilan belaka. Toh, dengan tidak memakai anting-anting tidak akan menghambat pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mentalnya.

Kalaupun suatu saat Arwen sudah bisa memutuskan sendiri untuk menggunakan anting-anting, dia akan belajar bahwa segala sesuatu yang diputuskan ada konsekuensinya. Paling tidak ia akan tahu rasanya "sakit" saat ditindik dan itu adalah keputusannya sendiri.



Original Post

Read more...

Kenapa Saya Berhenti Bekerja?

Friday, January 21, 2005



Dita Wistarini
, 27, Jakarta. Ibu dari Shaula Charmawendi (Arwen), 2 bln.
Pekerjaan terakhir : Produser Promo sebuah stasiun televisi swasta.
Alasan berhenti : Pekerjaan saya menyita hampir seluruh waktu, pikiran dan tenaga. Tuntutan bekerja mengejar tenggat waktu sangat tinggi. Tidak ada lagi 8 jam kerja sehari, sesuai dengan aturan Departemen Tenaga Kerja. Saya pulang, di saat orang-orang sudah beranjak ke peraduan. Bahkan di akhir minggu, bisa saja saya masuk kantor. Tidak ada lagi perhatian terhadap kondisi tubuh, yang sudah berteriak-teriak minta istirahat. Bayangkan jika di saat yang sama, saya harus juga mengurus bayi saya...
Tantangan terbesar : Awalnya benar-benar membuat stres. Saya adalah orang yang biasa bertemu dan bekerja dengan orang banyak, serta bersosialisasi secara aktif. Beberapa orang menyayangkan keputusan saya.Mereka selalu bertanya, "Mengapa harus berhenti bekerja?" atau "Kapan akan mulai berkarir lagi?" atau "Kasian deh, hidup lo cuman berakhir di rumah!" Terkadang saya lelah dengan pandangan miring mereka. Saya hanya tak ingin anak-anak saya dibesarkan oleh orang lain selain orangtuanya sendiri.
Kepuasan terbesar : Pekerjaan akan selalu ada di luar sana. Tapi perkembangan anak yang penuh kejutan dan sangat cepat hanya sekedip mata, tak akan bisa menunggu. Rasanya seperti kembali ke bangku kuliah dengan jurusan Psikologi Perkembangan Anak. Menyenangkan sekali bisa menemukan hal-hal baru. Saya ingin menikmati saat-saat di mana anak saya pertama kali tersenyum, mendengarnya memanggil "Mama!", menemaninya belajar jalan, melihatnya tumbuh dan yang pasti menatap matanya yang begitu bening dan berbinar saat melihat orangtuanya. Saya akhirnya menemukan bahwa untuk menjadi bahagia, uang bukanlah segalanya. Kebahagiaan terbesar adalah di saat mendengar orang berkata, "Wah, anaknya pintar sekali," atau "Anaknya terlihat bahagia ya." Dan yang terpenting, saya merasa bahagia bisa menjadi bagian terbesar di awal kehidupannya dan berperan membentuk dan mengarahkan kepribadian dan kehidupannya, Anda tahu sendiri bagaimana "kejamnya" dunia di luar sana. Begitu mudahnya anak-anak sekarang terjerumus dalam pergaulan yang tidak benar.
Rencana karir di masa depan : Saya memutuskan untuk kembali bekerja lagi menjadi penulis paruh waktu, sehingga saya tetap bisa mengawasi anak. Idealnya memulai usaha yang bisa saya kendalikan dari rumah.
Dulu saya harus berpikir sejenak jika seseorang menanyakan pekerjaan saya sebagai Ibu Rumah Tangga. Sekarang saya bisa berbangga dengan profesi terbaru saya ini dan saya akan mengatakan, "Sekarang pekerjaan saya adalah menjadi guru, pendamping dan pembimbing pribadi anak saya. Karena dia adalah prioritas dalam hidup saya, di samping suami tersayang."

"We are always too busy for our children; we never give them the time or interest they deserve. We lavish gifts upon them; but the most precious gift, our personal association, which means so much to them, we give grudgingly."(Mark Twain)

(Posted by Dita)
Original Post

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP